Remaja Pekalongan Juara Lari 1000 Meter Lomba Dengan Nyeker

Remaja Pekalongan Juara Lari 1000 Meter Lomba Dengan Nyeker – Bila ada kemauaan, kekurangan tidak membatasi seorang untuk mencatatkan prestasi. Seperti yang dikerjakan salah seseorang pelajar di Pekalongan. Remaja 13 tahun ini jadi juara lari 1. 000 mtr. walau mesti berlomba-lomba dengan nyeker sebutan lain tanpa alas kaki.

Ahmad Rizal Besar (13) siswa SMP Islam FQ Wonokerto, Pekalongan, ini sukses menyapu mendali emas dalam Minggu Berolahraga Serta Seni Maarif tingkat Nasional (Porsemanas) 1 di Malang dalam cabang atletik lari 1. 000 mtr. pada 23-27 Juli 2018. Dia mencatatkan waktu 3, 45 menit dalam kejuaraan itu.

Dia sukses singkirkan 22 perwakilan provinsi yang lain. Walau tanpa alas kaki, anak ke-3 pasangan Ahmad Mustofa serta Nuriyah ini tidak berkecil hati. Dia masih berkompetisi dengan atlet-atlet yang lain yang memakai sepatu.

Didalam rumah semi permanen memiliki ukuran 6 m x 8 m berlantai tanah di RT 04 RW 02 Desa Api-Api, Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, berikut Rizal lahir serta di besarkan. Rumah yang dikelilingi lumut serta kerap disambangi rob Laut Jawa.

Jadi juara dia tidak besar kepala. Akan tetapi berbarengan itu dia juga mengakui tidak berkecil hati atas kondisinya yang serba kekurangan, bahkan juga untuk salah satunya piranti utama ikuti perlombaan ; dia tidak mempunyai sepatu untuk berlomba-lomba.

” Selalu latihan saja. Tidak memang perlu malu. Yang terpenting usaha dahulu. Suka dapat juara. Saya selalu berlatih untuk ikuti kejuaraan lari lagi, ” kata pelajar yang bercita-cita ingin jadi tentara ini, waktu didapati di tempat tinggalnya Sabtu (28/7/2018) pagi

Rizal berlatih fisik lari tanpa alas kaki lima kali dalam satu pekan. Latihan dikerjakan di seputar rumah serta sekolah yang berjarak tidaklah terlalu jauh. Bahkan juga kadang di pantai.

Ke-2 orangtuanya cuma penjual pisang di pasar, tidak dapat untuk membelikan sepatu. Ahmad Mustofa, ayahnya, mengakui bangga atas prestasi anak bungsunya itu. Yang lebih membesarkan hati lagi merupakan Rizal tidak sempat berkecil hati atas keadaan keluarganya.

” Suka sekali. Dia tidak kurang percaya diri (berkecil hati) waktu lomba meskipun tanpa sepatu, ” kata Mustofa pada detikcom sekalian memberikan pujian pada jika Rizal merupakan anak yang rajin serta taat pada seorang tua.

Dia yang menolong saya menumpuk tanah didalam rumah supaya air rob laut tidak masuk. Kalaupun disuruh-suruh secara langsung ditangani, ” lanjutnya sekalian menunjuk gundukan tanah yang belumlah rata untuk meredam rob tidak masuk ke rumah.

Pihak sekolah menyampaikan, tidak ada sepatu saat Rizal berlomba-lomba, telah diakui semenjak awal. Akan tetapi apa bisa buat, sepatu-sepatu inventaris sekolah spesial untuk ikuti lomba lari rusak karena digenangi air rob.

Bukan sekedar sepatu inventaris sekolah saja, bangunan sekolahpun rusak kronis karena sering dirundung rob. Pada akhirnya pekerjaan belajar mengajar sekolah itu sangat terpaksa mengungsi ke Pondok Pesantren FQ.

” Sebenarnya kita ada sepatu untuk lari Rizal. Tetapi kondisinya tidak wajar, rusak karena digenangi air rob, ” kata Kepala SMP Islam FQ Wonokerto, Busyaeri.

” Kami mujur mempunyai anak didik seperti Rizal. Di dalam terbatasnya orangtua serta terbatasnya sekolah, dia masih semangat ikuti lomba, bahkan juga juara satu. Rizal untuk akademis bagus juga, ” jelas Busyaeri.

About admin